FAIL (the browser should render some flash content, not this).












BACK TO HOMEPAGE






Share (Burstable)

Saat ini kita sering membaca,melihat atau mendengar paket berlangganan internet dengat embel-embel up to atau burstable to 1 Mbps. Bagi yang sudah memahami soal teknis jaringan pastilah sudah mengerti apa maksudnya, tapi bagi orang awam kebanyakan menganggap bahwa paket yang dijual dengan harga sangat murah tersebut memiliki kecepatan akses yang dahsyat. Namun ketika menggunakan dan tidak mendapatkan hasil seperti yang dibayangkan, mereka-pun ramai-ramai protes dan menuduh si provider berbohong. Nah disinilah salah kaprahnya, sebenarnya ini masalah mempertemukan bahasa teknis dengan bahasa marketing agar memiliki nilai jual yang tinggi.

Pengertian singkat up to / burstable sebenarnya adalah pada saat traffik internet di provider tersebut tidak padat maka bandwidth paket tersebut akan menggunakan jalur yang kosong tadi sehingga kecepatannya bertambah tinggi/cepat, namun saat trafik kembali padat maka lambat laun kecepatannya akan menurun kembali sesuai jatah awalnya. Misalnya up to 1024 kbps, pada saat trafik rendah maka kecepatan akses paket tersebut bisa mencapai maksimal 1024 kbps, walaupun mungkin sisa bandwidth masih banyak namun sudah di set di 1024 kbps saja. Namun terkadang tidak disebutkan berapa batas minimalnya yang dijamin/garansi, sehingga konsumen tidak tahu berapa jatah minimal buat dia. Dengan demikian jika pelanggan hanya mendapatkan akses 12 kbps, sah-sah saja dan si provider tidak bisa disalahkan karena dia menawarkan produknya dengan kata-kata up to 1024 kbps, artinya 12 kbps masih dalam range tersebut.

Oleh karenanya disini diperlukan kejujuran si provider agar tidak hanya mencantumkan info batas maksimalnya saja tapi juga berapa batas minimal yang dijamin sehingga konsumen mengetahui hak dasarnya. Tentu saja konsumen juga harus mengerti dan memahami info teknis tersebut sehingga tidak mudah dibohongi dan tentunya tidak asal protes saja ketika hasilnya tidak sesuai harapan. Marilah kita wujudkan kerja sama B2C (business to consumer) ini dengan saling jujur, menghargai dan ber-martabat.


sumber artikel




CIR (Committed Information Rate)

CIR (dalam bits per detik) digunakan untuk mengatur flow data yang dikirimkan dari/ke pelanggan. Besar CIR normalnya adalah setengah dari besar bandwidth total. Jadi apabila menggunakan bandwidth 64kbps, maka CIR normalnya adalah 32kbps. Artinya, pada saat terjadi network congestion (jaringan jenuh / bandwidth habis) jaminan kecepatan transfer data minimum adalah 32kbits (CIRnya bekerja) dengan catatan pada jaringan tidak terjadi gangguan apapun. Pada saat tidak terjadi network congestion, besar bandwidth ditentukan oleh EIR (Excess Information Rate) yaitu bandwidth total yang diberikan ke pelanggan (bandwidth yang disewa). Jadi pada sistem CIR, TIDAK ada pembatasan bandwidth maupun pembagian bandwidth / sharing ke pelanggan lain, kecepatan bandwidth dapat menurun hanya apabila terjadi network congestion.


sumber artikel


koneksi Internasional (IX)

koneksi Internasional atau (IX) adalah koneksi keluar negeri atau yang ber-hosting diluar negeri seperti yahoo.com, facebook.com


koneksi lokal (IIX)

koneksi lokal (IIX) adalah koneksi lokal indonesia ke server yang ber-hosting di indonesia sejenis kompas.com, indowebster.com, dll. Koneksi game online indonesia menggunakan bandwith lokal.


IP Public

IP Public adalah IP address yang dapat di akses oleh pengguna internet diseluruh dunia, dan IP address publik diberikan oleh badan khusus dunia yang menangani mengenai IP address yaitu IANA.


service level agreement (SLA)

A service level agreement (frequently abbreviated as SLA) is a part of a service contract where the level of service is formally defined. In practice, the term SLA is sometimes used to refer to the contracted delivery time (of the service) or performance. As an example, internet service providers will commonly include service level agreements within the terms of their contracts with customers to define the level(s) of service being sold in plain language terms (typically the (SLA) will in this case have a technical definition in terms of MTBF, MTTR, various data rates, etc.) This should not be confused with a "Service Level Requirement" (frequently abbreviated to "SLR"), which ITIL describes as "A document recording the business requirement for an IT service. The SLR belongs to the senior business representative who owns the service. The Service Management Team have a responsibility to support the business representative in drawing up the SLR to ensure that the information contained in the SLR is both comprehensible and comprehensive. The SLR will provide a basis for negotiations linked to the formulation of Service Level Objectives (SLOs) or Service Level Agreements (SLAs)."







BACK TO HOMEPAGE